Cukup Sudah!

Di posting oleh Admin IOS pada 10:00 AM, 25-Nov-12

aspirasi.jpg Ratusan orang turun ke jalan. Mereka mengamuk! Rumah jabatan bupati (diduga) dibakar, fasilitas umum dirusak, kobaran api di jalan- jalan protokol. Pedagang buru-buru menutup tokonya, dan sebagian orang bersembunyi di balik bangunan kediamannya. Mencekam!. Hanya kata itu yang diucapkan seorang sahabat Debi Kriswanto, menggambarkan kondisi Pangkalan Bun pasca pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kotawaringin Barat akhir 2011 lalu. Bahkan dirinya yang diutus ikut meliput kedatangan Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, mengaku tidak berani jauh dari rombongan. “Saya yang wartawan saja takut, apalagi masyarakat biasa,” katanya sembari mengelus dada. Benih-benih kekisruhan itu sebenarnya sudah muncul setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mendiskualifikasi salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati setempat. Kebetulan, pasangan yang didiskualifikasi tersebut merupakan pasangan yang meraih suara terbanyak dalam pemilu kepala daerah (pemilukada) saat itu. Di tahun 2012, ancaman kekisruhan pemilukada kembali muncul, meski penyebabnya berbeda. Masih di Provinsi Kalteng, hanya kabupatennya saja yang berbeda, yakni Kapuas. Minimnya perbedaan suara antara calon nomor urut satu Ben Ibrahim dan Muhajirin, dan nomor urut tiga Mawardi- Herson D Aden, yakni sekitar 2.519 suara, merujuk pada penetapan KPUD setempat, seakan semakin membuka ruang terjadinya konflik antar pendukung. Apalagi nuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) menyeruak. “Hati-hati dengan pihak ketiga. Jika ini tidak segera diantisipasi, tidak menutup kemungkinan kondisi Kapuas bisa seperti Kobar. Pemerintah, Kandidat, tim kampanye dan masyarakat harus bersatu. Semua pihak harus menutup ruang dan kehadiran pihak ketiga,” kata pengamat hukum dari Universitas Palangka Raya, Donny Y Laseduw, baru-baru ini di gedung DPRD Kalteng. “Siap menang, siap kalah”. “Siap menciptakan kondisi aman dan tenteram”. Ungkapan yang selalu diucapkan para calon kepala daerah yang sedang bersaing di pemilukada. Pasca pemilukada, tidak puas dengan keputusan KPU dan kinerja Panwaslu, menurunkan ratusan massa, dan gugat menggugat di MK masih terus terjadi. Alhasil, bagai panggang jauh dari api, menggambarkan ungkapan itu. Menurut pengamat politik Universitas Palangka Raya, Sidik Rahman Usop, partai politik dan masyarakat Indonesia masih harus banyak belajar dari Amerika. Dimana partai yang ada di Negara tersebut, melakukan kaderisasi secara sistematis, sehingga calon pemimpin yang ditawarkan kepada masyakat benar-benar cerdas dan ingin berkarya bagi bangsanya. Sementara di Indonesia, partai politik cenderung mengedepankan modal atau uang yang di miliki calon dan komitmen terhadap pengusung. Selain itu, dalam setiap pesta demokrasi, selalu menonjolkan figur dibandingkan Visi-misi dan program yang akan dilakukan setelah terpilih. “Kita (Indonesia) juga belum konsisten. Siap menang siap kalah, hanya ungkapan kebohongan dikala sedang bersaing. Setelah diketahui hasilnya, tetap saja tidak terima. Gugat KPU, gugat Calon, turunkan massa, dan lainnya. Partai Politik harus berbenah dan objective mengusung calonnya,” terang Sidik. Kini, di tahun 2013, Provinsi Kalteng akan menyelenggarakan pemilukada di 10 kabupaten/ kota. Tujuh diantaranya, yakni Murung Raya, Barito Timur (Bartim), Pulang Pisau, Katingan, Lamandua, Seruyan, dan Sukamara, bakal diselenggarakan secara serentak pada 4 April 2013. Sedangkan, Barito Timur dan Kota Palangka Raya dilaksanakan 5 Juni 2013, dan Gunung Mas pada tanggal 5 September 2013. Ini momentum bagi partai politik di Kalteng untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Saatnya memberikan ketegasan kepada para tokoh yang berkeinginan bersaing di pemilu Kada, harus benar- benar membangun daerah dan berpihak pada masyarakat. Dan untuk masyarakat, saatnya menyatakan secara tegas kepada para pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah, agar konsisten dengan ucapan di kala berkampanye. Jika memang siap menang dan siap kalah, maka dalam bertindak pasca pemilukada harus dilaksanakan. Cukup sudah kita disuguhkan nostalgia hiburan kebohongan! (Jaya Wirawan M)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)