Penjelasan Tentang Kabut Asap

Di posting oleh Admin IOS pada 05:00 PM, 04-Oct-12

9joni.jpg Dalam beberapa hari terakhir ini titik panas meningkat 100 persen dibandingkan dengan minggu-minggu bulan September. Kita tidak tahu apakah kemarau ini masih akan panjang atau segera berakhir. Kendatipun pihak kantor Badan Meteorologi dan Geofisika menyatakan bahwa hujan akan turun pertengahan Oktober, tetapi sering perkiraan itu meleset. Turunnnya hujan yang berarti berakhirnya bencana kabut asap belum bisa dipastikan. Fenomena musim kemarau tahun ini tercatat lebih panjang dan kualitas panas yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang relatif tidak menunjukkan tingkat yang begitu panas seperti tahun ini. Namun demikian selama ini kita cenderung menerima hal ini sebagai fenomena alam yang senantiasa berulang. Kabut asap dan terus bertambahnya titik api pada musim kemarau senantiasa menjadi momok berulang dan kita seolah menganggapnya sebagai hal rutin. Ini jelas sikap yang tidak tepat. Apa yang berulang terjadi ini, sudah semestinya menjadi pelajaran berharga untuk dapat dicegah atau sedikit demi sedikit diminimalisasi, dan dicarikan solusinya, tentang bagaimana mengatasinya. Apakah karena Provinsi Kalteng dan wilayah lain di luar Pulau Jawa itu tidak menimpa pusat pemerintahan, konkretnya tidak terjadi di Pulau Jawa lalu dibiarkan saja?. Untuk Provinsi Kalteng, misalnya tahun ini malapetaka kabut asap nyaris sama dengan tahun tahun yang lalu. Kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan kembali melanda beberapa kawasan. Semua orang yang berada di wilayah ini tahu, kondisi ini sangat mengganggu jarak pandang dan mengancam kesehatan warga. Bahkan mengganggu aktivitas lahir dan bagi yang tidak terbiasa bahkan bisa mengganggu kejiwaan. Penerbangan juga terganggu. Tidak saja di Palangka Raya, Banjarmasin, dan Sampit. Di berbagai kawasan Indonesia seperti pulau Sumatera dan kawasan Timur Indoneisia juga demikian. Kabut asap bahkan membuat stress. Di Kota Palangkaraya, udara mulai berkabut asap menjelang tengah malam. Di pagi hari, kabut semakin tebal namun mulai berkurang menjelang siang. Tetapi secara umum tetap berkabut. Di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya penerbangan (Senin 01/10) ditiadakan sama sekali karena jarak pandang yang tidak memungkinkan untuk syarat pendaratan. Demikian pula di sepanjang ruas jalan Trans Kalimantan dari Kota Palangkaraya hingga Kabupaten Kapuas, khususnya di Pulang Pisau tepatnya di Desa Saka Kajang, Kecamatan Jabiren, bahkan terjadi kebakaran yang sangat mengganggu. Di pinggir jalan raya api berkobar dan nampaknya tidak ada upaya untuk memadamkan. Kejadian seperti itu, yang tentunya sangat merugikan berbagai pihak tersebut ternyata tidak menjadi pelajaran berharga. Semua pihak seolah menerima ini sebagai takdir yang harus dijalani. Tentunya ini pemikiran yang harusnya diperbaiki. Perlu Kerjasama Untuk mengatasi agar tidak terulang diperlukan perencanaan yang matang. Beberapa solusi yang dapat dan harusnya dialukan adalah: pertama dari kalangan rimbawan atau aparat yang mempunyai hubungan langsung dengan pengelolaan hutan harus bekerja keras untuk menciptakan kondisi aman bagi kawasan, khususnya kawasan hutan. Disebabkan terjadinya kebakaran lahan dari tiap tahun dari wilayah yang boleh disebut tetap, maka harusnya ada antisipasi untuk itu. Jadi jangan hanya diam termangu dan menerima takdir. Itu harus diubah. Cara praktisnya adalah dengan menciptakan keseimbangan potensi air yang dapat diambil dari saluran, atau mengalikan dari sungai besar yang memungkinkan dapat dialirkannya air ke kawasan tersebut. Hujan buatan selama ini hanya sebagai alternatif yang sifatnya praktis. Di samping memerlukan biaya mahal, hal itu tidak akan menolong untuk jangka yang lama. Harus disadari hal ini sebagai dasar untuk memerangi kabut asap untuk jangka panjang. Masyarakat juga harus dibiasakan dengan pola perilaku yang dapat mengurangi kebakaran lahan. Masyarakat harus bahu membahu untuk mengatasi permasalahan ini. Selama ini cara mengatasi permasalahan tersebut terkesan parsial. Masyarakat tidak pernah diajak secara aktif untuk secara teknis bagaimana menyikapi kabut asap akibat munculmnya titik api yang terus bertambah. Terpenting, sanksi untuk pelanggar atas pengelolaan hutan harus ditindak tegas. Selama ini penindakan itu tidak ada atau sama sekali tidak tegas. Oleh sebab itu sudah waktunya untuk dibuat pola-pola yang bersifat terpadu dan menyeluruh. Dengan melibatkan seluruh komponen yang harus dilibatkan secara sungguh- sungguh. Kebakaran lahan, ke depannya juga mengurangi kualitas tanah yang berarti juga produk di atasnya. Untuk itu, semua komponen harus bangkit dengan full motivation atau motivasi penuh untuk memberantas kabut asap yang bersumber dari kebakaran atau pembakaran lahan. (Joni, SH.MH.SP.MP,Mkn)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)